Berikut suatu bahasan opini singkat, menjelaskan bagaimana kaum liberal selalu mengedepankan akal untuk menafsirkan kaidah dari sumber hukum islam yaitu Alquran dan Assunnah. Sehingga akan menghasilkan suatu penafsiran keluar dari kerangka nash,melenceng dari pemahaman yang seharusnya. Dunia Islam Indonesia, sejak lama tersusupi paham liberal ini,semoga dengan ringkasan yang singkat ini kita bertambah waspada menyingkapi pemikiran ini (islam liberal).
=================================================================================
Tipuan Lemah Kaum Liberal
Islamedia – Suatu hari seorang bapak memberi wejangan kepada seorang anak laki-lakinya yang baru saja mendaftar di Sekolah Dasar. “Ingat mas, kamu itu harus rajin belajar supaya kamu pintar!!” Begitu pesan sang bapak. Kemudian si anak mematuhi perintah bapaknya. Selama beberapa tahun ia mendapat peringkat yang baik di kelas.
Hingga saat si anak memasuki usia remaja, dan ia mulai mengenal rasa suka terhadap wanita, ia mulai menterjemahkan lain petuah bapaknya. Sesuai dengan kondisi terkini, pikirnya, rajin belajar supaya pintar adalah belajar untuk menggoda dan merayu wanita agar wanita bisa terpikat dengan dirinya. Jadilah ia belajar menggoda dan memikat wanita dengan dalil perintah bapaknya.
Sah kah logika anak tersebut?
Kita tentu saja setuju, bahwa logika tersebut sangat ngawur dan ngaco. Perintah bapaknya punya konteks tersendiri, sedangkan si anak memalingkan konteks tersebut. Kalau mau benar, harusnya diperhatikan kondisi-kondisi yang muncul saat perintah itu keluar. Seperti penyebab perintah itu muncul, dan keterangan lain dari bapak dan ibunya soal perintah tersebut.
Sebenarnya kisah tersebut adalah metafora bagi kalangan liberal yang hendak menggugat Al-Qur’an dengan alasan zaman. Al-Qur’an menurut mereka adalah produk budaya yang berlakunya harus disesuaikan dengan usia dan kondisi zaman. Dengan basis pemikiran ini, kaum liberal mengadopsi metode hermeneutika. Menafsirkan Al-Qur’an sesuai konteks zaman dan budaya. Mencoba membuat Al-Qur’an menyerah oleh perkembangan zaman. Na’udzubillahi min dzalik.
Teori hermeneutika agak rumit dicerna oleh kalangan awam. Kalau kita ingin menerangkan tentang hermeneutika kepada masyarakat, mungkin kita akan kesulitan memilih kata-katanya. Tapi metafora seperti di atas rasanya cocok. Dan satu hal lagi, masyarakat biasanya akan melihat dari produk yang dihasilkan. Kenyataannya, metode hermeneutika ini menghasilkan tafsir yang sangat ngawur tentang jilbab: “Bahwa Jilbab adalah hasil budaya dan tidak wajib. Batasan aurat adalah bagian tubuh yang membuat kita malu apabila terlihat.” Begitulah hasil tafsir metode hermeneutika tentang jilbab dirangkum dari berbagai pendapat liberalis.
Amat tepat metode yang telah ada selama ini: Al-Qur’an ditafsir dengan ayat Al-Qur’an lain, dengan hadits, dengan perkataan sahabat, ulama, dan lughoh (bahasa). Metode ini mengantarkan penafsir pada kesimpulan yang tepat sesuai dengan keinginan Allah swt. Apabila produk tafsir dari metode tersebut dirasa tidak sesuai dengan zaman, maka tandanya zaman yang sudah tidak sesuai dengan keadaan ideal yang diharapkan oleh Al-Qur’an. Umat Islam harus buru-buru mengoreksi kehidupannya agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Al-Qur’an.
Degradasi keimanan itu sesuatu yang pasti terjadi. Rasulullah pernah bersabda: :“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi. Selanjutnya akan datang suatu kaum yang persaksiannya salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Bukhari nomor 2509, 3451, dan 6065; Muslim nomor 1533) Lalu kalau metode tafsir Al-Qur’an kita paksakan sesuai dengan peradaban yang telah terdegradasi keimanannya, kesholehannya, maka tentu saja hasil tafsrinya akan terdegradasi ketepatannya. Sungguh tafsir ini yang membuat umat makin terpuruk dan celaka tak mampu bangkit.
Begitulah jebakan liberal yang sangat rapuh tapi membahayakan. Logika mereka sesungguhnya rapuh. Hanya saja dibungkus oleh retorika dan diksi yang memukau. “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (Q.s. an-Nisa’: 76).
Opini dari andaleh
sumber: http://www.islamedia.web.id/2011/01/tipuan-lemah-kaum-liberal.html
artikel terkait:
Waspada Bahaya Berdua-duaan (Pacaran)
Bahaya Mengkultuskan Berlebihan Orang Sholeh
Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik
Mengenal Para Ulama Pembaharu dalam Islam
PARA AHLI SEPAKAT KHITAN CEGAH AIDS/HIV
Halaman terkait:










Penafsiran ayat-aya terkait dengan nilai-nilai fundamental Islam, khususnya aqidah, ibadah dan akhlaq memang sebaiknya menggunakan metode tafsir yang telah dirumuskan dan diterapkan para mufassir. Akan tetapi dalam mecoba menangkap makna ayat yang terkait dengan bidang-bidang kehidupan yang lain berbagai metode dari manapun sumbernya, termasuk hermeneutika dapat dipertimbangkan, untuk memperkaya khsanah metode penafsiran kita.
terimakasih ats kunjungan dan tanggapanya…
islam telah turun dengan sempurna, denganya lahir pula metode penafsiran yang khas dari para ulama shalih sebagai penerus dakwah Nabi Muhammad SAW. Telah banyak ulama2 islam yang telah membuktikan kelemahan2 model tafsir hermenetika. Kelemahan yang alami, karena lahir dari sebuah pemikiran akal manusia. Telah dibuktikan hermenetika tidak bisa menyentuh sama dengan point2 pendukung tafsir yang sebenarnya adalah urgen dalam proses tafsir itu sendiri. salah satu contoh: hermenetika tidak menyentuh ilmu riwayat, padahal tak ada metode paling sempurna untuk menilai keotentikan kecuali dengan ilmu riwayat(barangkali inilah faktor munculnya hermenetika,tuk mngetes kitab suci yg terputus riwayatnya).kedua, tafsir islam syariah mengenal nasikh dan mansukh tapi hermenetika tak mengenalnya.jika meninggalkan metode ini akibatnya akan menggeneralisir perkara yg sifatnya bertahap dan kronologis. ketiga, dalam islam Rosul adalah bagian dari syariat itu sendiri (sumber hukum), atau kata lain Rosul diposisikan sebagai bagian dari as syar’i,berbeda dengan hermenetika yang memposisikan sbg tokoh historis.konteks yg sangat berbeda,dan akan menghasilkan perbedaan pula. contoh keempat kebrobrokan hermenetika justru juga bermasalah secara internal, dan diakui oleh pakar dan pengusung hermenetika sendiri dan mereka sebut dg ‘hermenetika circle’(lingkaran setan tafsiran). dan kontra2 hermenetika lainya yang semakin diteliti semakin jelas kelemahanya yang krn memang hasil pemikiran akal manusia.
Kesimpulan Secara epistemologis, hermeneutika —sebagai teori interpretasi-epistemologis—bukan dari Islam, tetapi merupakan produk tsaqâfah Barat. Pengetahuan yang lahir dari akidah dan pandangan hidup yang berbeda dengan Islam. Sebagai metode berfikir, hermeneutika justru mengalami kebobrokan dari dalam, terutama ketika meniadakan anggapan-anggapan dasar, yang nota bene dibutuhkan oleh sebuah metode berfikir rasional seperti ini.
Nah jika demikian, apakah kita masih meragukan metode2 tafsir ulama2 terdahulu yang shalih dan tsiqah?yang denganya…semua maslahat hidup tersolusi dg syariah itu sendiri.Walahu’alam
Baca juga artikel terkait,insyallah melengkapi.
Kelemahan dan Kebrobrokan Tafsir Hermenetika
ini realita
masalah,bahan pelajaran kita.
mudah2an ini semua adalah peroses mnuju ksempurnaan kita sebagai mahluk Allah.kita selalu diberi hidayah n taufikNya.
kita di golongkan ke dlm orang2 yang pduli akan petunjukNya andai diberi umur,kita sampai menyelesaikan ksempurnaan yg di maksud, andaipun tidak kita bukanlah orang yg terjrumus dan hina bagi Allah
amin